Rahma Sarita: assalamualaikum wr wb

HAL:  Angin Menderu Pagar Mau Rubuh Saat Kaki Rahma Bikin Sibuk


……..
……..
Rahma Sarita dalam Ada Apa Berita di Jak-TV pada 19 Maret 2012 sedang memandu segmen dialog yang dimulai pada jam sembilan malam. Sebelum itu pada segmen sekitar jam delapan malam dengan topik dan narasumber berbeda, Rahma Sarita sempat sibuk dengan kaki.
……..
Saat melakukan interview dengan seorang pembicara pada 19 Maret 2012 malam, sekitar jam 20.32 lebih sepuluh detik Rahma Sarita menggerakkan kaki ……….
dan ………. wuaaak……wuaaak ……. wuaaaaak …….. rok yang menutupi kaki kiri Rahma Sarita tersingkap cukup tinggi sekitar satu jengkal di atas lutut. Apalagi mengingat rok itu sebetulnya cukup panjang, satu jengkal di bawah lutut, tapi bisa tertarik sampai satu jengkal di atas lutut……
……..
Kemudian pada jam 20.33 lebih 49 detik Rahma Sarita memegangi kaki kiri yang sempat tersingkap itu, entah karena dingin atau apa.
Pada malam itu pula angin menderu cukup lama di tempat tinggalku di Cinere, dengan suara deruan serta suara dedaunan tertiup kencang seperti kalau ada siaran langsung Hurricane di Fox News tapi tentu dengan kecepatan angin yang tidak terlalu tinggi. Dan saat aku matikan laptop pada sekitar jam setengah duabelas malam, anginpun berhenti menderu. Dua hari kemudian pada Rabu 21 Maret 2012 aku baru tahu pagar di bagian belakang rumah, di atas tembok, tampak miring hampir rubuh karena terdorong oleh rumpun bambu yang tertiup angin kencang itu.
Dua foto pagar yang miring karena angin kencang yang bertiup cukup lama pada 19 Maret 2012.
Di bagian belakang rumah adalah tanah terbuka, sebagain berupa sawah dan ada yang berupa ladang ditanami kacang atau tanaman lain. Sehingga kalau ada angin akan melaju deras dari atau ke tanah terbuka itu.
Ini foto-foto tanah terbuka di belakang rumah, tapi ini foto-foto lama tahun 2008 dan 2009 karena sekarang di dekat pagar itu sudah dibuat kamar pembantu jadi tidak bisa memotret dekat pagar.
Pandangan ke belakang dari dak jemuran di lantai atas.
……..
Rabu 21Maret 2012 pagi aku ke kantor pos karena kakakku yang di Pondok Bambu perlu beberapa pasfotoku, dan aku kirim lewat pos. Sebelum dikirim aku kasih nama dan alamat lima pasfoto itu lalu langsung ditumpuk, ternyata tinta ballpoint pada belepetan di belakang pasfoto-pasfoto itu, dan karena ditumpuk jadi kena bagian depan juga. Setelah dicuci dengan air dari toilet di belakang kantor pos, aku jemur pasfoto-pasfoto itu dekat deretan kotak PO Box.
……..
……..
……..


Saat melakukan interview dengan seorang pengacara terkenal yang juga anggota DPR pada 19 Maret 2012 malam, sekitar jam 20.32 lebih sepuluh detik kamu menggerakkan kaki ………. dan meskipun terjadi dalam waktu yang cukup singkat, namun tampak rok yang menutup kaki kiri kamu tersingkap cukup tinggi sekitar satu jengkal di atas lutut. Sehingga cukup bikin kaget juga.

Apalagi mengingat rok itu sebetulnya cukup panjang, satu jengkal di bawah lutut, tapi bisa tertarik sampai satu jengkal di atas lutut……

Pada malam itu pula, angin menderu cukup lama di tempat tinggalku di Cinere, dengan suara deruan serta suara dedaunan tertiup kencang seperti kalau ada siaran langsung liputan Hurricane di Fox News, tapi tentu dengan kecepatan angin yang tidak sekencang Hurricane.

Setelah melihat kamu di Ada Apa Berita sampai selesai pada jam sepuluh malam, aku kemudian menulis surat sebelum ini yaitu “Nomer 6 Fabrice Muamba Kolaps Di Lapangan Pada Perempat Final FA Cup, Dan QSA 24:32“. Angin yang pada waktu kamu masih muncul di layar TV berderu kencang, masih terus berderu beserta suara dedaunan tertiup angin yang kuat itu.

Sekitar jam setengah duabelas malam aku selesai kerjakan surat itu dan saat aku matikan laptop, pada saat bersamaan anginpun berhenti menderu. Dua hari kemudian pada Rabu 21 Maret 2012 aku baru tahu pagar di bagian belakang rumah, di atas tembok, tampak miring hampir rubuh karena terdorong oleh rumpun bambu yang tertiup angin kencang itu.

Rabu 21Maret 2012 pagi aku ke kantor pos karena kakakku yang di Pondok Bambu perlu beberapa pasfotoku, dan aku kirim lewat pos. Saat aku sampai, kantor pos masih sepi dan aku tanya kalau yang sampai dalam satu hari surat apa, dan aku dikasih tahu surat ekspres. Sebelum dikirim, aku periksa dulu dan baru ingat belum dikasih nama pasfoto itu. Akupun kasih nama dan alamat lima pasfoto itu lalu langsung ditumpuk, dan setelah selesai aku lihat koq ditanganku ada beberapa huruf hitam. Aku periksa pasfoto itu ternyata tinta ballpoint pada belepetan di belakang pasfoto-pasfoto itu, dan karena ditumpuk jadi kena bagian depan juga. Aku baru ingat kalau bagian belakang kertas foto itu terbuat dari kertas yang bercampur lilin, jadi tinta ballpoint tidak menyerap dengan baik sehingga butuh waktu untuk kering.

Aku langsung tanya dimana letak toilet, dan dikasih tau di belakang lewat samping luar. Setelah dapat air di toilet, aku cuci bagian depan pasfoto-pasfoto itu, dan alhamdulillah bisa hilang flek-flek tinta ballpoint itu.

Kebetulan ada lekukan tembok yang menonjol di bawah deretan kotak PO Box yang ada di dekat toilet di bagian belakang kantor pos itu, dan saat pagi seperti itu sedang terkena sinar matahari, jadi aku jemur pasfoto-pasfoto itu. Sebentar sudah kering, lalu aku ke dalam kantor pos lagi. Tapi kali ini sudah ramai orang, ada lebih dari limabelas orang, jadi aku tunggu dulu sampai mereka sudah beres, baru aku kirim.

Kembali ke soal angin menderu pada Senin malam itu dan kemudian aku tahu telah menyebabkan pagar belakang rumah seperti mau rubuh. Yang jadi persoalan adalah, sejak sekitar awal tahun delapanpuluhan aku sering mimpi mengalami kiamat. Langit berubah jadi gelap, bulan terbelah dua, dan suasana mencekam. Saat kejadian kiamat itu aku merasa berada di suatu tempat dimana aku dapat leluasa melihat keadaan sekitar, seperti pada rumah bertingkat dimana  pandangan kepada langit cukup luas.

Setelah kakakku pindah ke rumah di Wisma Cakra Cinere, aku merasakan suasana pandangan ke arah tanah terbuka luas di belakang rumah sangat mirip dengan mimpiku soal kiamat itu.

Oleh sebab itu, angin kencang pada Senin lalu yang menyebabkan pagar di belakang rumah ke arah tanah terbuka itu jadi miring hampir rubuh, seperti isyarat bahwa pagar-pagar yang menahan kemunculan kiamat sudah tidak kuat lagi menahan.

Mungkin antara lain karena kamu sebagai keturunan nabi yang seharusnya menjadi salah satu pagar penahan kemunculan hari kiamat, sudah tak kuat lagi menahan godaan-godaan duniawi seperti terlihat pada foto-foto diatas. Maupun pada hari-hari lain, dimana kamu seperti tidak kuat untuk bertahan untuk tidak menarik rok kamu ke atas lutut, bahkan ketika rok kamu itu sebetulnya cukup panjang di bawah lutut.

Namun aku berharap masih ada waktu untuk kita, agar jangan sampai kiamat muncul gara-gara persoalan kita. Kalaupun kita sudah berusaha secara maksimal tapi kiamat tetap muncul, moga-moga bukan tanggungjawab kita lagi.


Jakarta, 22 Maret 2012.
wassalam,


a.m. firmansyah
sms 0812 183 1538


One Response to “AB516. Angin Menderu Pagar Mau Rubuh Saat Kaki Rahma Bikin Sibuk”

  1. aha Says:

    brarti rahma sarita itu punya keistimewaan, dia bukan manusia biasa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: