Rahma Sarita: assalamualaikum wr wb

HAL:  Isyarat Lewat Nana Sutresna, Adjie Massaid dan Jedy Suherman


Mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Inggris Nana Sutresna wafat pada Kamis (27/1/2011) pukul 09.00 WIB setelah sempat dirawat di RS Raffles, Singapura. Nana Sutresna Sastradidjaja lahir di Ciamis, Jawa Barat, 21 Oktober 1933. Lulusan Jurusan Master of Arts International Relation University of Wales, Inggris (1964), dan Aberystwyth, United Kingdom University College of Wales, Inggris, ini mengawali kariernya sebagai anggota redaksi luar negeri LKBN Antara Kepresidenan Indonesia (1955-1957). Ia juga pernah bertugas di Washington, DC, Mexico City, dan Geneva sebagai pejabat dinas luar negeri. Nana kemudian ditunjuk sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh/Wakil Tetap Republik Indonesia untuk PBB di New York, lalu Duta Besar RI di Bahama, Jamaika, Nikaragua, dan terakhir Inggris pada masa pemerintahan Presiden Megawati. Kompas – Kamis, 27 Januari 2011 | 10:42 WIB.
……
Anggota DPR yang juga Manajer Timnas U-23, Adjie Massaid, meninggal dunia di Rumah Sakit Fatmawati, Sabtu (5/2/2011) dini hari WIB. Adjie meninggal dalam usia 43 tahun. Suami model dan mantan Putri Indonesia, Angelina Sondakh, ini lahir pada 7 Agustus 1967 di Jakarta. Adjie telah dua kali terpilih sebagai anggota DPR RI, yakni pada 2004-2009 dan kini 2009-2014.  Kompas – Sabtu, 5 Februari 2011 | 03:47 WIB
…….
Jedy Suherman, kiri, ayah dari mantan penyanyi cilik terkenal Joshua Suherman, kanan. Jeddy Suherman wafat beberapa jam setelah Adjie Massaid.
foto: KapanLagi.com
Setelah publik dikejutkan oleh kepergian aktor yang juga politisi Partai Demokrat, Adjie Massaid, kabar duka kembali datang dari keluarga mantan penyanyi cilik Joshua Suherman. Ayahnya, Jedy Suherman, meninggal setelah terkena serangan jantung, Sabtu (5/1/2011) sekitar pukul 13.30 WIB. Menurut istri almarhum, Jocelyn. Jedy mengembuskan napas terakhir di Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta. “Ini serangan jantung yang kedua,” ujar Jocelyn, saat dihubungi Kompas.com, sambil menahan tangis. Kepergian Jedy tentu menyimpan duka yang mendalam bagi Joshua. Lewat akun Twitter-nya, pelantun lagu “Diobok-obok” itu menuliskan pesan untuk ayah tercinta, “RIP my beloved daddy! Jeddy Suherman.. We love you pah….”  Kompas – Sabtu, 5 Februari 2011 | 14:36 WIB
……
Jari tangan kananku terkena air panas
pada Jumat pagi.
Sambungan kabel dalam rol hitam yang biasa  digunakan untuk setrika.
……
Boneka yang digantung pada demo anti presiden Mubarak di Mesir muncul dalam siaran langsung di TV-One pada Jumat sore, mengingatkan aku pada Saddam Husein yang digantung setelah ditangkap di persembunyian bawah tanah. Baju dan celana yang aku pakai saat kehujanan di Jumat siang, dan kemudian aku cuci bersama satu kaos, lalu disetrika di lantai pada Jumat sore.
……
Andrie Djarot menginterview para teman dekat Adjie Massaid yaitu Didi Petet, Rico Ceper dan Ruhut Sitompul, disiarkan langsung dari dekat rumah duka di jalan Taman Cilandak Barat pada 6 Januari 2011 malam. Rico Ceper


Waktu aku mempersiapkan surat sebelum ini, “Ide Lukisan Paris Rahma At The Gym“, aku sudah merencanakan untuk memuat pula soal kewafatan pak Nana Sutresna diplomat senior yang antara lain pernah menjadi dubes Indonesia untuk PBB dan kemudian untuk Inggris. Karena kemunculan berita pak Nana Sutresna wafat adalah pada hari Kamis 27 Januari 2011, setelah aku terinspirasi soal Twitter Paris Hilton mengenai “Pink Iron Gym” yang mengingatkan aku pada Aa’ Gym yang pada tahun 2006 menikah lagi sehingga memiliki istri dua.

Nama depan pak Nana Sutresna ‘kan seperti double “na”, yang kurang lebih seperti dua kata “enak”, dan nama belakang Sutresna seperti terkait dengan kata “tresna” yang berarti “cinta”. Sehingga seperti isyarat dari langit soal “enak dua istri dalam cinta” untuk mempermudah aku ketemu ajal. Apalagi pak Nana Sutresna juga berasal dari Jawa Barat seperti Aa’ Gym.

Tapi waktu kemudian aku menulis surat itu, aku lupa untuk memuat soal pak Nana Sutresna itu dan baru ingat setelah aku sedang mengunggah surat itu di Internet. Aku sempat mau tambahkan saja langsung di bagian akhir surat “Ide Lukisan Paris Rahma At The Gym” itu pada template WordPress, tapi terus aku tunda karena aku merasa akan ada momen lain yang lebih tepat.

Dan ternyata betul juga, momen lain itu muncul setelah pada Sabtu dinihari 5 Februari 2011 Adjie Massaid meninggal dunia secara mendadak. Malahan kedua tokoh itu tinggal di daerah yang sama yaitu di Taman Cilandak. Pak Nana Sutresna di Jalan Taman Cilandak III/1 Komplek Departemen Luar Negeri di Lebakbulus, Jakarta Selatan sedangkan Adjie Massaid di Jalan Taman Cilandak 2 Blok E no 14, Cilandak Barat, Jakarta Selatan.

Mengenai Adjie Massaid mungkin lebih baik aku tulis mengenai kegiatanku secara kronologis sejak Jumat 4 Februari 2011. Sejak Jumat pagi suasana seperti sudah rada mencekam, sebab waktu aku masak air sedikit untuk secangkir minuman coklat panas, jari tangan kananku kena tutup teko yang ternyata nggak tertutup dengan baik sehingga terbuka saat aku tuang air menyebabkan terasa panas dan sekitar sehari kemudian jadi melendung seperti terlihat di foto. Padahal itu bagian yang penting kalau aku sedang melukis, untuk bertumpu tanganku, dan aku sedang rada terburu waktu untuk bikin lukisan Paris Hilton menjelang ulang tahun dia 17 Februrari 2011.

Saat kena air panas itu aku di dapur sedang bersama pembantu yang sudah sekitar setahun belakangan ini kerja. Pembantu itu berusia lebih muda dari pembantu yang sebelum itu sudah berhenti kerja. Sehingga peristiwa kena air panas itu seperti mengisyaratkan aku jangan turun, sebab usia yang lebih muda dari yang terdahulu itu ‘kan seperti menurun. Jangan turun dalam arti jangan membatalkan kesediaanku untuk naik ke atas ke surga ketemu ajal untuk kebaikan umat manusia.

Siang hari setelah sholat Jumat, aku ke Alfamart untuk beli obat WC karena rada mampet, tapi nggak ada sehingga aku pikir lebih baik ke Mal Cinere. Biasanya kalau ke Mal Cinere aku naik sepeda dulu ke warnet dekat Polsek Limo Cinere untuk kemudian naik angkot. Tapi karena hujan gerimis, sepeda aku titip di Alfamart dan langsung naik angkot.

Pulang dari Mal, pada saat aku turun dari angkot hujan lumayan deras sehingga aku tunggu di Alfamart dulu. Ketika hujan mulai reda, aku berangkat pulang naik sepeda, tapi baru beberapa puluh meter melewati depan rumah-rumah di Griya Cinere, hujan muncul lagi meskipun gak terlalu lebat. Karena sudah tanggung basah sebab lewat di depan rumah-rumah seperti itu tentu nggak ada tempat untuk berteduh, maka aku lanjutkan saja bersepeda basah-basahan sampai rumah.

Sore hari setelah pembantu pulang ke rumah dia, aku cuci baju dan celana yang basah itu di mesin cuci sekalian sama satu kaos oblong. Selesai dicuci, sudah rada kering tapi tentu belum kering betul karena mesin cuci itu cuman memutar kencang seperti memeras, tanpa dipanaskan. Mengingat sudah sore jadi sudah gak ada matahari, gak bisa dijemur, maka aku pikir lebih baik disetrika aja.

Tapi di dekat meja setrika aku gak menemukan gulungan kabel yang biasa untuk menyambung kabel setrika. Memang waktu siang sebelum aku berangkat sholat Jumat ke mesjid ada beberapa teman keponakanku, beberapa cewe, yang belajar bersama di lantai atas, sehingga mungkin sambungan kabel itu dipakai untuk komputer atau ipad atau apalah gadget yang mereka bawa. Dan meskipun sore itu mereka sudah nggak ada, keponakanku juga pergi, aku enggan untuk naik ke lantai atas untuk ambil sambungan kabel itu sebab aku nggak tau apakah mereka akan balik lagi atau nggak. Kalau mereka akan balik lagi berarti sambungan kabel itu akan dipakai lagi. Lagipula aku khawatir kalau aku naik ke atas dan ada gadget2 mereka yang masih berantakan, kesenggol aku terus ada yang rusak atau ada gadget yang lagi salin apa kek tapi kesenggol aku sehingga gak bisa lanjut merekam, ‘kan berabe.

Sehingga akupun menyetrika di lantai kamarku saja dengan alas sejadah dan selimut sembari nonton siaran langsung berita demo anti presiden Hosni Mubarak dari Mesir. Tentu dengan demikian aku menyetrika sambil duduk di lantai.

Pada siaran langsung berita demo anti presiden Hosni Mubarak dari Mesir itu antara lain tampak ada boneka yang digantung, mengingatkan aku pada Saddam Husein yang juga berakhir di tiang gantungan setelah ditemukan dan ditangkap di persembunyian di bawah tanah.

Posisiku duduk di lantai itu emang sempat bikin aku khawatir akan menimbulkan kesan aku nggak lagi mau naik ke atas ke surga di langit ketemu ajal untuk kebaikan umat manusia. Namun aku pikir ‘kan cuman sebentar aja, itupun gak aku selesaikan sampai ke menyetrika celana panjang karena kalau celana panjang aku pikir lebih baik dijemur dulu keesokan hari.

Ternyata kekhawatiranku itu terbukti ketika keesokan hari muncul berita Adjie Massaid mendadak meninggal dunia pada Sabtu lewat tengah malam, kemudian diikuti pada Sabtu siang oleh pak Jeddy Suherman ayah dari mantan penyanyi cilik Joshua. Sehingga menjadi tiga orang yang meninggal dunia, pak Nana Sutresna, Adjie Massaid dan Jeddy Suherman.

Jumlah tiga orang yang wafat itu seperti peringatan kepada aku bahwa kalau aku gagal untuk menjalani kesediaanku ketemu ajal untuk kebaikan umat manusia maka aku cuma akan jadi pemicu bencana di dunia ini. Antara lain dapat berupa bencana orang-orang yang terkait dengan tiga akan diangkat dari bumi ini, menyebabkan terjadi perebutan senjata pemusnah massal yang ditinggalkan, sehingga terjadi Perang Dunia 3 dan berujung pada kiamat disebabkan kedahsyatan senjata-senjata pemusnah masal itu.

Peringatan itu seperti diperkuat dengan fakta bahwa menjelang ajal Adjie Massaid, orang yang dekat dengan dia saat bermain sepakbola beberapa jam sebelum wafat adalah Rico Ceper. Nama Rico Ceper mengingatkan aku pada teman kakakku di SD dan SMP, yaitu dua bersaudara Rico dan Nara, dimana kemudian sang kakak Nara meninggal dalam usia muda. Dua bersaudara itu kurang lebih seperti aku dan kakakku Faisal yang memuat “sal” seperti pada kata salib yang biasa terkait dengan orang-orang yang terkait dengan tiga.


Jakarta, 7 Februari 2011.
wassalam,


a.m. firmansyah
sms 0812 183 1538



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: