Rahma Sarita: assalamualaikum wr wb

HAL: Beberapa Kata “Wahai” Pada Twitter Rahma Tanggal 23 Oktober 2010



Terus terang aku jarang buka Twitter, sebab aku nggak punya follower di akun Twitterku jadi aku pikir nggak ada pesan penting yang harus aku lihat.

Hari Jumat lalu tanggal 12 November 2010 termasuk yang jarang itu, aku buka Twitter dan waktu lihat akun kamu aku terkejut karena ada dua pesan kamu yang memuat kata “wahai” beberapa kali, masing-masing empat kali pada satu pesan. Dan kedua pesan itu dimuat pada tanggal 23 Oktober 2010.

Maka akupun segera mengingat-ingat pada atau sebelum tanggal itu aku memuat surat apakah yang mungkin membuat kamu menulis pesan “wahai” itu.

Tepat pada tanggal 23 Oktober 2010 itu aku tidak menulis surat. Sedangkan sebelum itu, pada 22 Oktober 2010 aku menulis tiga surat yaitu “Nobel 2010 Untuk Pelopor Bayi Tabung Setelah Aku Ke Situs Khusus Orang Dewasa“, “Pengunduran Diri Rahm Emanuel Dan Ujian Nabi Daud a.s.“, dan “Respon Melinda Gates Kepada Lukisan “Rokok Bill Gates”“.

Dalam numerologi Cina di kalangan orang Indonesia, terutama waktu jaman judi buntut dulu, nomer 23 dikenal sebagai nomer untuk monyet. Maka pesan kamu yang muncul pada tanggal 23 itu seperti berarti agar kamu ditanggalkan dari keadaan “terusir dan menjadi kera” seperti kisah jaman dulu yang sering diungkap oleh para Ustadz mengenai orang-orang yang tidak mematuhi perintah Allah kemudian dikutuk, terusir dan menjadi kera. Pada pesan kamu itupun ada kata-kata “wahai temanku kala di pengasingan”, sehingga kamu seperti merasa sedang terusir dan khawatir menjadi kera.

Untuk itu aku merasa perlu mengatakan disini bahwa aku tidak termasuk orang yang ingin menjadikan kamu terusir, diasingkan, apalagi kalau kemudian menjadi kera. Tapi kalau mungkin kamu merasa ada kesalahan kamu yang menyebabkan kamu mengalami hal itu, maka yang terbaik tentu kamu memohon maaf kepada siapapun yang mungkin kamu telah berbuat salah.

Kalau terhadap aku sih, aku nggak merasa kamu berbuat salah kepada aku. Pernah aku menyebut bahwa penerimaan kamu kurang baik, itu bukan berarti aku ingin diterima dengan karpet merah seperti tamu agung. Selama ini yang aku khawatirkan adalah karena kamu nggak kunjung mau bicara serius sama aku padahal sudah sedemikian banyak isyarat dari langit yang seperti mendesak kita agar bicara serius.

Di pihak lain, kata “wahai” itu seperti terkait dengan suratku tanggal 22 September 2010 yang berjudul “Wahai Rakyat, Jangan Pilih Saya, Sebab Saya Suka…….”. Setelah pesan kamu di Twitter tanggal 23 Oktober 2010 itu, kemudian terjadi seperti yang aku tulis pada “Rentetan Kejadian Dramatis 24-25-26-27 Oktober 2010“, antara lain gempa di Mentawai. Nama Mentawai itu seperti dari kata “mentertawakan”, sehingga seperti pesan dari langit bahwa kita harus mengadakan pembicaraan serius mengenai soal kamu dan aku. Sebab kalau kita tak kunjung bicara serius, hanya akan menimbulkan spekulasi di kalangan orang-orang yang mengamati soal kita ini, menimbulkan isyu negatif, maupun juga seperti nggak ada soal serius yang perlu kita bicarakan.

Pesan-pesan kamu diatas jelas menunjukkan bahwa kamu masih sibuk menuding aku, sibuk bermain di zona prasangka buruk terhadap aku, nggak perduli dengan berbagai penjelasan yang aku berikan termasuk penjelasan di “Wasior: “Awas Satu Kosong, Rahma” ”  mengenai keadaan darurat. Padahal sudah sedemikian banyak bencana besar yang seperti terkait dengan kita, dan mungkin ada tugas tertentu yang akan diberikan Allah kepada kita setelah kita terikat pernikahan untuk kebaikan umat manusia.

Pada bencana yang terjadi di kepulauan Mentawai, yang cukup parah terkena dampak gempa dan tsunami pada 27 Oktober 2010 itu adalah pulau Pagai Selatan. Beberapa hari  sebelum itu aku entah kenapa beberapa kali teringat pada kisah nabi Luth dan pesan yang muncul dari langit saat itu kepada nabi Luth yaitu “pergilah dan jangan melihat ke belakang….”. Nama pulau Pagai Selatan mengingatkan pada kata “gay” yang pada masa nabi Luth merupakan salah satu penyebab kemunculan peringatan dari langit. Maka mungkin ini pesan untuk kita agar melangkah ke depan, jangan sibuk saling menyalahkan, sebab ada tugas-tugas penting yang akan diberikan oleh Allah untuk kita berdua untuk kebaikan umat manusia. Kalau kita hanya sibuk saling tuding, saling menyalahkan, akan menyebabkan hilang waktu dan tenaga dan momen-momen penting.

Sebetulnya aku kurang suka untuk memohon tambahan isyarat, sebab berdasarkan kisah-kisah umat terdahulu cuma orang yang tidak percaya kepada Allah saja yang suka meminta tambahan isyarat dari langit. Namun kalau kamu masih kurang yakin, mari kita mohon kepada Allah. Agar dalam waktu satu minggu setelah tanggal surat ini akan ada lagi isyarat kuat dari langit untuk kita berdua yang tidak mungkin merupakan rekayasa manusia atau yang lain selain Allah dan tanpa korban jiwa.

 


Jakarta, 17 November 2010.
wassalam,


a.m. firmansyah
sms 0812 183 1538


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: