Rahma Sarita: assalamualaikum wr wb

HAL:  Isyarat Jangan Pergi Pada 6 Agustus 2010, Kebakaran PELNI, Bandara Mati Lampu, Gunung Karang Etang Meletus, Dan Anggota DPR Tewas Kecelakaan Kapal


Rahma Sarita pada Kabar Petang 5 Agustus 2010 bersama Aryo Widiardy, dan inset foto orang berkacamata di bawah Rahma.

FotoDetik.com FotoDetik.com
Kebakaran terjadi di gedung penjualan tiket PT Pelni, Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat, 6 Agustus 2010. Api muncul sejak jam 11 pagi diduga dipicu oleh korsleting listrik di ruang panel kabel lantai 2. Dua orang pekerja gedung tewas di dalam lift lantai 7, Dadang Nurdin (57), pensiunan PT Pelni yang kini kerja di PT SGS sebagai mandor cleaning service, dan Edi Pramono (27) teknisi AC.

Kompas.com
.
FotoDetik.com FotoDetik.com
Madani, petugas cleaning servis yang sempat terjebak di lantai 4 Gedung Pelni, berhasil dievakuasi. Korban langsung dilarikan ke RSCM. FotoDetik.com / Hery Winarno / Didit Tri Kertapati


Jumat, 06/08/2010 12:25 WIB
Dampak Mati Listrik
Bandara Soekarno-Hatta Padat Seperti Terminal Bus

Elvan Dany Sutrisno – detikNews
Jakarta – Dampak mati listrik menyebabkan suasana Bandara Internasional Soekarno-Hatta di terminal domestik bagaikan terminal bus, Jumat (6/8/2010). Suasana hiruk pikuk karena calon penumpang antre panjang untuk check in. Suasana lobi padat, seperti masa mudik Lebaran.

Edwin_Cokelat/Twitter
. .

Gunung Karangetang di Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara, menyemburkan lava panas, Jumat (6/8). Akibatnya lima rumah penduduk rusak dan empat orang dinyatakan hilang. Keempat orang hilang itu berasal dari Kampung Kinali, Kecamatan Siau Utara. 4.000 warga di lima kampung terisolasi dan hanya bisa melalui jalan laut karena jalan darat sudah dipenuhi lava panas. . Liputan6 / Aldrin Arief – Firdaus Syam  – 07/08/2010 06:06
.

. .
Gunung Karangetang di Sulawesi Meletus
Memuntahkan lava dan abu panas hingga ratusan meter ke udara.

Jum’at, 6 Agustus 2010, 18:36 WIB – Pipiet Tri NoorastutiVIVAnews – Gunung Karangetang, salah satu gunung berapi Indonesia yang paling aktif meletus pada Jumat, 6 Agustus 2010. Peristiwa ini mengakibatkan sejumlah korban luka dan hilang. Gunung Karangetang yang terletak di Siau, Sulawesi Utara, ini memuntahkan lava dan abu panas hingga ratusan meter ke udara.

Sedikitnya empat warga yang tinggal di lereng pegunungan hilang, kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Surono. Beberapa orang juga terluka parah. Terakhir, Gunung Karangetang menciptakan letusan besar pada Juli 2006. Letusan kala itu menyebabkan hampir 4.000 warga dari lima desa diungsikan.

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak di jalur Cincin Api Pasific yaitu gugusan gunung berapi di wilayah Pasific. Jalur ini umumnya rawan letusan dan gempa vulkanik. (AP)

. .


.
Musibah Rombongan DPR
Kapal Anggota DPR RI Tenggelam, 2 Tewas
Sabtu, 7 Agustus 2010 | 13:37 WIB

MANADO, KOMPAS.com — Kapal perahu yang ditumpangi rombongan anggota DPR RI diempas ombak setinggi 2,5 meter di kawasan perairan Bunaken, Manado, Sulawesi Utara. Seketika kapal tersebut terbalik dan seluruh penumpang tercebur ke laut.

Seperti dilansir Tribunnews, dua penumpang perauhu tersebut yakni istri anggota DPR dari Partai Demokrat Soetjipto dan anggota DPR dari PDI-P Setia Permana, dilaporkan tewas di lokasi kejadian. Mereka diduga tak mampu menyelamatkan diri saat kapal tenggelam, sementara delapan penumpang lainnya berhasil menyelamatkan diri.

Saat ini kedua jenazah sudah dievakuasi, delapan penumpang lainnya langsung dilarikan ke RS Bhayangkara, Manado.

Peristiwa itu terjadi pukul 12.00 WIB. Saat itu, kedelapan anggota DPR itu rencananya melakukan kunjungan kerja ke Bunaken. Namun sesaat sebelum merapat ke dermaga, kapal diempas ombak dan langsung menghantam tiang mercusuar sehingga kapal hancur lebur.

.




Kamis 5 Agustus 2010 malam, seorang penggemar kamu dari Yogya yang sejak setahun lalu sering SMS-an sama aku mengenai kamu, memberi dorongan agar aku ke Wisma Nusantara lagi pada Jumat malam. Semula aku agak enggan karena dia menggunakan kata “berani nggak”, sehingga untuk aku agak aneh koq mau ketemu Rahma Sarita harus berdasarkan pada soal berani atau nggak, emang kamu itu macan, atau tinggal di dekat jurang dalam yang harus aku lompati, atau semacam itu.

Namun kemudian dia mengubah soal berani nggak itu, dan menyebut untuk membuktikan aku serius maka aku harus datang lagi. Maka akupun setuju untuk datang pada 6 Agustus 2010 malam, meskipun lebih karena didesak oleh dia.

Dan  terus terang mengenai tanggal 6 itu aku khawatir akan diintepretasikan lain, sebab angka 6 ‘kan seperti “end A.M.” dimana A.M. dari namaku A.M. Firamnsyah, jadi “end A.M.” itu sesuai komitmenku untuk berakhir dari dunia ini, ketemu ajal dalam skema “Rahm Emmanuel“. Sedangkan kata “tanggal” ‘kan selain berkaitan dengan kalender juga dapat berarti “lepas”, seperti dalam kalimat “anak itu menanggalkan pakaian sebelum berenang di sungai”.

Sehingga kalau aku datang pada tanggal 6, dapat diartikan aku menanggalkan komitmenku untuk berakhir, untuk ketemu ajal.

Walaupun kalau dikaitkan dengan bulan Agustus, dapat berarti lain pula, yaitu tanggal 6 Agustus dapat diartikan “lepas end A.M. Agus to Sarita”. Ini berkaitan dengan nama satpam pak Agus yang mendampingi kamu jalan ke mobil saat aku datang tanggal 8 Oktober 2009. Jadi “lepas end A.M. Agus to Sarita” berarti aku melepas keberakhiranku untuk menjadi seperti pak Agus malam itu, mendampingi kamu. Berarti masih sesuai dengan skema “Rahm Emmanuel” juga.

Tapi mengingat arti lain yang aku sebut lebih dahulu, yang seperti berarti aku melepas komitmenku untuk ketemu ajal, maka aku kemudian berpikir lebih baik menunggu isyarat dari Allah SWT mengenai apakah aku harus jadi pergi atau nggak pada 6 Agustus 2010 kemarin.

Dan ternyata sore hari sekitar jam 16.00 hujan mulai turun, seperti isyarat agar aku jangan berangkat. Isyarat lainpun seperti bermunculan pula, pada Kabar Petang ada berita tentang bandara Soekarno Hatta mati lampu sehingga penumpang membludak seperti ada kerusuhan saja. Juga kantor PELNI di Kemayoran terbakar, dua orang tewas. Selain itu di Sulwesi Utara ada gunung meletus, gungung Karang Etang.

Dua orang tewas pada kebakaran di kantor PELNI seperti isyarat kuat karena sehari sebelum itu saat kamu muncul  pada Kabar Petang, ada foto orang berkacamata seperti aku yang diinterview dari jauh yang diinsertkan di bawah kamu. Sehingga dapat menimbulkan kesan bahwa kita akan ketemu untuk aku “ngepel” bagian bawah kamu. Dengan dua orang tewas terbakar di kantor PELNI itu, seperti isyarat kalau sampai kita melakukan hal itu maka kita akan masuk neraka, kecuali kalau kita sudah menikah.

Sedangkan gunung meletus di Sulawesi Utara bernama Karang Etang merupakan isyarat lain. Selain karena dekat dengan lokasi Sail Banda yang dikunjungi presiden SBY dan terguncang gempa saat presiden SBY menerima gelar di Ternate, juga karena nama gunung itu sendiri, Karang Etang. “Karang” terkait dengan kata “mengarang” seperti pada kata “mengarang cerita”, dan “Etang” dari kata bahasa Sunda “Eta” yang berarti “itu”. Dan tanteku yang bernama tante Ema yang sering aku sebut berkaitan dengan skema “Rahm Emmanuel” emang berasal dari Sunda. Sehingga gunung Karang Etang meletus pada dini hari tanggal 6 Agustus 2010 itu seperti isyarat agar aku lebih baik mengarang-ngarang saja soal “ng”, jangan dilakukan betulan, kecuali kalau sudah menikah.

Isyarat penting lain, mati lampu di bandara Soekarno Hatta pada pagi hari 6 Agustus 2010, memiliki arti terkait dengan ide yang muncul lewat kepalaku soal pesawat dengan jalur berbentuk pipa transparan yang aku tulis pada surat “Sinkhole Guatemala“. Surat itu aku tulis pada 14 Juni 2010 dan belakangan aku baru tahu bahwa itu menjelang Isyra Mi’raj tanggal 10 Juli 2010, meskipun waktu aku menulis surat itu tidak terpikir bahwa Isyra Mi’raj sudah menjelang. Maka aku jadi teringat dengan surat 17, surat Al Isra, mengenai perjalanan Isra Mi’raj nabi Muhammad s.a.w. Surat 17 itu diawali dengan “Subhanalladzie……”, yang mengisyaratkan bahwa pejalanan nabi saat itu harus didukung dengan mensucikan Allah. Sehingga mati lampu di bandara pada 6 Agustus 2010 itu seperti isyarat agar aku jangan datang sebab dikhawatirkan terjadi perbuatan yang bukan-bukan dengan kamu, padahal kita belum menikah sehingga akan melecehkan kesucian Allah SWT. Mungkin pula ini isyarat bahwa kelanjutan ide itu penting untuk kebaikan umat manusia, sehingga aku harus menjaga kesucian diri untuk menerima lanjutan ide itu dari langit.

Maka untuk kesekian kali aku ingatkan kamu, kalau kamu setuju untuk mewujudkan skema “Rahm Emmanuel” untuk kebaikan umat manusia, lebih baik kita segera menikah agar kita tidak dituduh melecehkan kesucian Allah SWT.

Semula surat ini sudah selesai aku tulis pada Sabtu siang 7 Agustus 2010, tapi aku tunda untuk dimuat di Internet. Ternyata penundaan itu seperti karena ada berita penting lain yang harus dimuat, sebab sore hari di TV aku dapat berita kapal yang mengangkut anggota DPR mengalami kecelakaan dihantam ombak besar di Bunaken, dekat Menado Sulawesi Utara. Dua orang tewas yaitu anggota DPR dari PDIP Setya Permana, dan Wahyu Nurani istri anggota DPR Sutjipto dari Partai Demokrat.

Kecelakaan kapal yang mengangkut anggota DPR itu seperti melanjutkan peringatan untuk kita yang aku tulis diatas yaitu kebakaran di gedung PELNI, sebab PELNI ‘kan juga perusahaan perkapalan. Dan lokasi kecelakaan di Sulawesi Utara, berarti dekat dengan gunung meletus Karang Etang yang aku sebutkan diatas, juga dekat dengan lokasi Sail Banda yang terjadi gempa saat presiden SBY menerima gelar di Ternate tanggal 3 Agustus 2010 lalu.

Nama anggota DPR yang tewas, Setya Permana, seperti isyarat terkait dengan ideku untuk melukis Malia Obama. Nama belakang Permana seperti berarti Paris Rahma Firman, sehingga nama Setya Permana seolah isyarat agar aku tetap setia dengan kolaborasi Paris Rahma, dengan tetap pada komitmen untuk mewujudkan skema “Rahm Emmanuel“. Apalagi nama istri dari Setya Permana itu ternyata Ema Rahmawati, seolah pesan agar aku tetap teguh mewujudkan skema “Rahm Emmanuel” bersama kamu. Dan saat aku browsing berita kecelakaan kapal anggota DPR ini, aku menemukan pula iklan dari Bunaken Cha-cha resort. Nama Chacha itu seperti nama keponakanku yang bernama asli Sarita seperti nama kamu. Sehingga seperti memperkuat isyarat bahwa aku mewujudkan skema “Rahm Emmanuel” itu harus bersama kamu, bukan bersama cewe lain.


Jakarta, 7 Agustus 2010.
wassalam,


a.m. firmansyah
sms 0812 183 1538


2 Responses to “AB265. Isyarat Jangan Pergi Pada 6 Agustus 2010”


  1. […] AB265. Isyarat Jangan Pergi Pada 6 Agustus 2010 […]


  2. […] AB265. Isyarat Jangan Pergi Pada 6 Agustus 2010 […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: